makalah konsep keumatan dalam dunia dakwah.Sosiologi dan Antropologi

KONSEP KEUMATAN DALAM DUNIA DAKWAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester
Mata kuliah : Sosiologi dan Antropologi
Dosen pengampu : Masudi, S.Fil.I., M.A


Disusun Oleh :
Nama : Nur Sinta Darmayanti
NIM : 1740210059






INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
DAKWAH & KOMUNIKASI
PRODI KOMUNIKASI & PENYIARAN ISLAM
2018

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Islam kata Muhammad Iqbal dalam The Recotruction Thought of Religious Islam, adalah agama yang berdimensi keyakinan dan lebih mementingkan amal atau tindakan. Isinya berbentuk ajaran dan anjuran. Salah satu ajaran islam yang paling penting dan berorientasi praktis dan jalan yang benar yang popular di sebut dakwah. Kehadiran Islam di tengah-tengah kehidupan umat memberikan warna baru bagi perjalanan sejarah panjang kehidupan mereka. Dalam keberadaan ini, Islam hadir di tengah-tengah kehidupan umat manusia memberikan arahan yang cukup mencerahkan bagi mereka sehingga kehadirannya bisa membangunkan keterlelapan umat dari tidur panjang. Kehadiran Islam, utamanya di tengah-tengah peradaban umat manusia di tanah Arab telah membangunkan mereka dari kebodohan yang berujung kepada degradasi moral. Melalui kajian akan pertumbuhan Islam di zaman kontemporer.
Dakwahtaiment merupakan salah satu tema kontemporer yang mengangkat isu-isu terkait dalam pertumbuhan dunia dakwah modern. Globalisasi yang mencakup di dalamnya ruang-ruang eksplorasi setiap pribadi, keberadaannya akan mengukuhkan pribadi yang positif dan kuat akan menjadi lebih stabil menjaga situasi-situasi dunia global yang serat tekanan. Kemajuan dan perkembangan globalisasi ditandai dengan adanya kecanggihan teknologi. Aneka pertumbuhan teknologi atau industry yang diakibatkan oleh pertumbuhan dunia globalisasi dapat dijadikan pondasi gina mendiskripsikan secara ilmiah hakikat dari teknologi.
Sebagai salah satu cara yang setrategis dakwahtaiment sangat membantu dalam prosespembangunan sepiritual sebagian  masyarakat di kalangan kita. Fenomena ini diharapkan akan membawa dampak positif bagi perkembangan dunia islam. Namun jika dilihat dari sisih sesungguhnya dari dakwah televise itu tentu dihadapkan pada suatu kebingungan. Tujuan dakwah yang religious ternyata dalam realisasinya dominandengan muatan materialistisnsemata yang dikhawatirkan akan berdampak pada dakwah itu sendiri. Kondisi yang demikian jika berlangsung terlalu lama akan berdampak pada masyarakat sebagai madu yang harusnya terbangun kekuatan spiritualnya namun pada kenyataannya hanya berperan sebagai penonton yang suatu acara hiburan dan tidak menampakkan indikasi keberhasilan misi religiounya dari acara dakwataiment. 
2. Rumusan Masalah
Bagaimana pertumbuhan social masyarakat islam?
Bagaimana pengembangan islam kontemporer?
Bagaimana dakwahtaiment dalam islam kontemporer?

3. Tujuan
Tujuan yag hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui metode dakwah yang dilakukan pada masyarakat perkotaan dan masyarakat kontemporer.
Untuk mendalami tentang dakwahtaiment yang sedang berkembang saat ini di tengah masyarakat kota.
 BAB II
PEMBAHASAN
Sejak reformasi 1998 ditabuh, ruang-ruang belenggupolitik di buka dana kebebasan berpendapat dan pres diapresiasi, banyak masyarakat Indonesia menaruh harapan sekaligus kecemasan terhadap ruang keterbukaan yang terjadi begitu cepat dan menengak.  Kelompok-kelompok ideology, politik, dan budaya seperti merasa mendapat angina segar dan energy menumpuk untuk mengaktualisasikan gagasan dan gerakan sebelumnya ditutup rapat, dibelenggu dan diberangus. Imbas dari tekanan dan kekuatan pemerintah yang sangat ketat menjaga stabilitas keamanan, dantaranya adalah upaya pelemahan gerakan-gerakan politik keagamaan, khususnya islam. Pelemahan tersebut sangat berhasil di praktikkan penguasa orde baru. Meskipun harus menanggung resiko lebih berat karena terjadi proses pelemahan secara menyeluruh yang membunuh potensi-potensi gerakan positif yang mengarah pada proses penunjukan jati diri yang terpendam, seperti gerakan dakwah.
Potensi-potensi gerakan social, politk, dan budaya yang sudah terbentuk sejak lama kemudian bermunculan seperti jamur di musim hujan. Pembelengguan dan pelemahan gerakan-gerakan ideology politik diluar pancasila memang sudah melumpuhkan bukan saja pada infrastruktur budaya dalam gerakan tersebut, tetapi juga etika dan norma serta keyakinan dibuat dangkal yang meruntuhkan fondasi-fondasi mental masyarakat. Salah stu warisan ideology yang mendpat tekanan saat itu adalah pelemahan nilai-nilai dan etika jihad dalam memperjuangkan hak-hak umat, maupun jihad memelihara agama. Konsep jihad yang lahir begitu indah sebagai spirit dalam menjalankan kehidupan telah disalah pahami dan dislewengkan maknanyamenjadi sebatas makna kekerasan secara fisik terhadap siapa saja yang dianggap melawan agama Tuhan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang konsep jihad ini sangat penting guna membangun kembali jati diri umat islam yang makin lama makin melemah.
Konsep yang lain yang sering diagendakan dengan jihad adalah dakwah, yang makna bahasanya adalah mengajak atau menyerukepada manusia agar menjalankan ajaran islam, melaksanakan yang makruf dan menjauhi yang munkar. Secara sepintas, menlaksankam yang makruf menjahui yang munkar (dakwah) bias dijadikan sebagai landasan untuk melakukan jihad, sehingga dakwah dengan jihad sering dipahami secara bergantian dengan tujuan membumikan syariat islam.
Secara konsep pemahaman seperti itu tentu saja menyesatkan, karena pada akhirnya akan menyamakan makna jihad dengan dakwah. Padalah dapat di lihat dari makna generiknya, keduanya sangat berbeda meskipun memiliki spirit yang sama, yaitu suatu konsep cara dalam usaha melakukan perbaikan dan mencegah keburukan.
Reduksi terhadap peran daI, isi dakwah, dan target-target dakwah makin menyempitruang lingkupnya, meskipun pada sisi lain makin beragam dan variatif bentuk dan pendekatannya. Salah stunya yaitu dakwah di media massa,  dakwah di media masa memiliki nilai positif da nada bnyak positifnya di banding kekurangannya. Yang pertama, kelebihan dakwah melalui media massa memiliki jangkauan sarana dakwah yang lebih luas melintasi batas-batas social, kultural, dan geografis. Sehingga dakwah di media massa dianggap sangat efektif karena dapat menjangkau masyarakat banyak. Kedua, pesan dakwah dapat disampaikan lebih cepat dan efektif, terutama berkaitan dengan luasnya daratan Indonesia dan majemuknya kehidupan masyarakat. Apabila dakwah bias berlangsung dalam konteks demikian, boleh jadi program dakwah semestinya menjadi media pemerstu kebangsaan Indonesia. Ketiga, dakwah islam makin dekat dengan umatnya, yang pada akhirnya makin mendekatkan Islam pada sasaran dakwah. Di sampng itu dakwah makin familier dengan umat dan dapat diakses kapan saja karena program dakwah dimedia masa waktunya sangat variatif.
1. Pertumbuhan Sosial Masyarakat Islam
Mengamati pertumbuhan sosial yang berjalan, kehidupan kaum muslim akan berpacu dengan ragam perkembangan sosial yang terdapat di tengah-tengah kehidupan mereka. Perkembangan sosial yang terdapat di tengah-tengah kehidupan kaum muslimin secara tidak langsung juga menyebabkan timbulnya formula-formula sosial yang akan diambil dan diaplikasikan.
Formula-formula sosial yang timbul dan berjalan di tengah-tengah masyarakat setidaknya akan terwarnai dengan kehadiran pendidikan yang mereka emban dan pelajari. Pada kerangka ini Asep Usman Ismail, ed., (2008: 6-7) menjelaskan bahwa pengembangan masyarakat, selain berbasis pada pendidikan massa (mass education), juga berorientasi pada pendidikan orang dewasa (adult education), yaitu pendidikan yang disajikan untuk membelajarkan orang dewasa yang qmeliputi pendidikan berkelanjutan, pendidikan perbaikan, pendidikan qpopular, pendidikan kader, dan pendidikan kehidupan keluarga. Dapat pula ditambahkan bahwa pengembangan masyarakat identik dengan pendidikan perluasan (extension education), yakni pendidikan yang qdiperluas jangkauannya ke luar peserta didik di luar lembaga pendidikan formal, yakni ke masyarakat. Pendidikan perluasan merupakan kegiatan kemasyarakatan, yakni pelayanan masyarakat dalam upaya memperbaiki dan membangun kehidupan masyarakat. Fasilitator, pendamping atau community workers dalam pelayanan masyarakat bertugas memotivasi masyarakat dan turut serta bersama masyarakat dalam mengembangkan bidang kesehatan masyarakat, pertanian, perekonomian, dan pendidikan yang didasarkan atas kebutuhan masyarakat. Sungguh pun pengembangan masyarakat (community development) lahir dari tradisi pendidikan massa (mass education) dan berbasis pada bidang pekerjaan sosial (social work), serta memiliki kemiripan cakupan dengan pendidikan luar sekolah; namun community development berkembang menjadi disiplin ilmu yang mandiri.
Perkembangan studi tentang community developmentpengembangan masyarakat Islam mengarah kepada pengkajian masyarakat dan dinamika sosial kehidupannya secara baik dan terarah. Studi tentang pengembangan masyarakat ini seutuhnya dirancang untuk menjelaskan kepada setiap individu akan keberadaan dirinya di tengah-tengah komunitas yang ditempati. Pada kerangka ini Yusra Kilun, ed., (2007: 38) menjelaskan komunitas bisa dibedakan menjadi dua jenis yaitu komunitas geografis dan komunitas fungsional. Komunitas geografis ialah komunitas dalam artian penduduk yang berdiam di suatu daerah disebut juga dengan komunitas lokal. Sedangkan komunitas fungsional yang tidak dibatasi oleh daerah yang mereka huni tapi dibatasi oleh karakter atau ciri khusus, misalnya komunitas petani, komunitas peternak, komunitas nelayan, dan komunitas pengrajin.
Rumusan tentang diferensiasi komunitas dalam cakupan pengembangan masyarakat perlu dipahami oleh setiap individu bahwa keberadaannya akan muncul dalam realitas kehidupan sosial yang kompleks. Sebagai alasannya, pengembangan masyarakat dalam kancah pertumbuhannya tidak bisa dianggap sederhana. Pertumbuhan sosial dan kemasyarakatan yang ada di tengah-tengah masyarakat akan senantiasa berhadapan dengan kompleksitas yang karena keberadaannya, masyarakat akan tergiring untuk memacu kehidupan mereka pada kebaikan dankeharmonisan. Perspektif tentang pengembangan masyarakat dijelaskan oleh Brokensha dan Hodge, sebagaimana dikutip oleh Isbandi Rukminto Adi, mendefinisikan pengembangan masyarakat sebagai sutau gerakan yang dirancang guna meningkatkan taraf hidup keseluruhan masyarakat melalui partisipasi aktif dan insiatif dari masyarakat itu sendiri (Adi, 2001: 135).
Masyarakat dalam keberadaan dirinya di lingkungan yang ditempati perlu menyadari bahwa mereka harus senantiasa berpartisipasi baik guna menciptakan civil society masyarakat berbasis kepada nilai sosial positif sehingga orientasi keberadaan mereka menjadi tepat guna dan sasaran. Menegaskan tentang pengembangan dan dinamika sosial kemasyarakatan yang harus senantiasa disadari oleh setiap individu, Edi Suharto menyatakan bahwa, pengembangan masyarakat adalah salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat melalui pendayagunaan sumber-sumber yang ada pada mereka, serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial masyarakat (Suharto, 2005: 37). Pengembangan masyarakat sebagai metode pekerjaan sosial menunjuk pada interaksi aktif antara pekerja sosial dengan masyarakat, yang dalam pelaksanaannya, masayarakat yang dikembangkan itu terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi suatu program pembangunan kesejahteraan sosial (PKS) atau usaha kesejahteraan sosial (UKS) (Suharto, 2005: 37).
2. Pengembangan Masyarakat Islam Kontemporer
Perkembangan masyarakat yang menyentuh kepada pengembangan masyarakat Islam kontemporer merupakan terminologi kekinian yang dicanangkan oleh kajian-kajian Islam. Berbagai pijakan serta realitas mendasar adanya pembaharuan dalam Islam telah dipaparkan dalam latar belakang pembahasan. Kondisi ini tentu menginspirasi secara serius setiap pribadi bahwa hakikat dari pertumbuhan masyarakat akan menjadi tampak baik di saat mereka menyadari bahwa perubahan sosial yang berada di tengah-tengah mereka adalah keniscayaandari hakikat perkembangan itu sendiri. Membangun kondisi masyarakat Islam kontemporer disandarkan kepada penyadaran masing-masing bahwa secara sosiologis masyarakat itu terdiri dari aneka ragam bentuk. Dalam analisis sosilogi masyarakat digambarkan menjadi dua kelompok primary group (kelompok primer) dan secondary group (kelompok sekunder). Primary group (kelompok primer) adalah keluarga. Ia merupakan unit/kesatuan oragnisasi sosial yang terdiri dari sistem nilai-nilai yang mengajar anggota-anggotanya bagaimana dia harus memuaskan kebutuhannya.
Keluarga adalah suatu lembaga yang memberikan pola tingkah laku manusia, mengkoordinasikan serta mengintegrasikannya dan sampai tingkat tertentu ia dapat memberikan ramalan tentang perilaku manusia. Keluarga mempunyai fungsi membentuk pribadi mengendalikan tingkah laku dan mentransmisikan warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Secondary group (kelompok sekunder) adalah masyarakat itu sendiri di mana di dalamnya berkembang berbagai oraganisasi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, agama, dan sebagainya yang pengaruhnya tidak kecil terhadap perkembangan pribadi manusia. Kelompok ini sering juga disebut lembaga sekunder untuk menunjukkan bahwa sebagai suatu lembaga, kelompok sekunder ini memiliki suatu sistem nilai-nilai sosial dan kultural yang berkembang menurut mekanisme perkembangan lembaga itu sendiri (Arifin, 2004: 102-103)
Pemahaman atas kelompok-kelompok sosial yang berjalan di tengah-tengah masyarakat bersandar seutuhnya kepada kenyataan bahwa dalam keberadaannya, masyarakat dituntut menyadari kebersamaan dalam keanekragaman. Perbedaan yang ada di tengah-tengah mereka merupakan sebuah sunnatullah yang akan menyamakan mereka dalam perbedaan. Aneka konflik yang mungkin muncul dalam keberadaan mereka perlu disikapi dalam maslahat untuk kebersamaan. Masing-masing individu dalam kelompok perlu menyadari secara seksama bahwa konflik antar budaya umumnya terjadi karena perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan yang lebih dikenal dengan istilah SARA. Pada masyarakat majemuk seperti di Indonesia, konflik SARA sering muncul dengan berbagai latar belakang, lebih-lebih apabila kemajemukannya itu sendiri saling memaksakan kehendak antara satu golongan dengan golongan lainnya atas dasar kemajemukan, dan tidak mencari modus vivendi (titik persamaan). Penataan lingkungan hidup karena penyebaran penduduk yang tidak merata misalnya, sering menjadi pemicu terjadinya konflik horizontal yang bergelombang. Di samping kebijakan pembangunan yang sering tidak memihak dan mengindahkan aspek sosio-kultural masyarakat menambah pemicu konflik yang kian rentan dan menggunung (Aripuddin dan Sambas, 2007: 40-41).
Berbagai kebijakan yang muncul di tengah-tengah masyarakat memang tidak bisa secara mudah diimplementasikan dalam perjalanan kehidupan sosial mereka. Masyarakat akan senantiasa dipertemukan dengan conflict of interest yang pada akhirnya mereka dituntut untuk bersikap keras atau melunak atas kondisi tersebut. Namun, secara umum munculnya berbagai kecednerungan sosial yang terdapat di tengah-tengah kehidupan masyarakat seringkali terkonfrontasi atas keberadaan tersebut penolakan-penolakan yang bisa berujung kepada konflik sektoral. Meskipun kondisi ini tidak diharapkan dalam realitas sosial kemasyarakatan, namun keberadaannya menjadi fenomena umum yang bisa banyak dijumpai. Perubahan sosial bukanlah sebuah proses yang terjadi secara tiba-tiba, terlebih lagi ketiak perubahan sosial tersebut melibatkan individu atau kelompok sosial sebagai target perubahan. Munculnya gagasan gagasan baru, temuan baru, serta munculnya kebijakan baru, tidak dapat diterima begitu saja oleh individu atau kelompok sosial tertentu. Sejarah telah menunjukkan bahwa proses perubahan pola pikir yang dominan, sangat sulit untuk diubah. Sebagai contoh, perjuangan Galileo dalam mengubah mainstream yang sangat kuat pengaruhnya saat itu. Pada saat Galileo menemukan teleskop dan kemudian dia berupaya memunculkan teori baru, yaitu teori heleosentris. Melalui hasil pengamatan dari teleskop buatannya, dia menemukan bahwa sebenarnya bumilah yang berputar mengelilingi matahari.
Temuan Galileo ini merupakan sebauh pandangan yang bertentangan dengan anggapan yang diyakini saat itu, bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi (paham geosentris). Pandangan geosentris ini telah dilegitimasi oleh institusi gereja pada masa itu, sebagai lembaga yang sangat kuat, setiap pandangan yang telah dilegitimasi oleh gereja, mustahil untuk dapat diubah, dan siap saja yang menentang gereja, maka akan mendapat hukuman. Galileo pun akhirnya menemui ajalnya akibat temuannya tersebut yang dianggap melawan ajaran gereja (Martono, 2012: 249-250)
Mengamati atas kondisi yang terjadi dari banyaknya konflik yang diakibatkan oleh perkembangan dan pengembangan sosial kemasyarakatan sebagaimana hal tersebut digambarkan di atas, dapat dimunculkan dalam pemahaman setiap pribadi bahwa pemahaman atas organisme sosial dan organisme kebudayaan merupakan fakta yang tiada bisa ditolak. Dialektika yang muncul di tengah-tengah masyarakat harus disadari secara seksama bahwa hal tersebut bagian dari konsekuensi dinamis kehidupan sosial itu sendiri. Kerangka ini perlu masuk dalam kesadaran setiap pribadi yang pada akhirnya, perjumpaan mereka masing-masing dalam lintasan sosial merupakan kemutlakan yang harus diakui.
Dialektika hubungan antar bangsa dan antar budaya semakin terasa baik secara langsung maupun tidak langsung. Transfer budaya melalui buku-buku, tayangan televisi telah menciptakan wacana baru dialektika hubungan-hubungan antar budaya. Kondisi seperti ini sangat rentan terhadap konflik, khsususnya konflik internal pada diri individu yang dapat melahirkan sikap-sikap jiwa yang kurang sehat. Frustasi, depresi, dan isolasi diri menjadi pemandangan umum bagi individu yang tidak siap menghadapi globalisasi budaya. Hal ini merupakan kondisi yang memprihatinkan dalam perkembangan normal manusia. Pergeseran nilai dan budaya berjalan dengan cepat semakin menambah persoalan-persoalan seperti terjadi dalam keluarga dan masyarakat. Terjadinya kenakalan remaja, keterlibatan narkotika, zat adiktif, dan obat-obatan terlarang (NAPZA) serta pergaulan bebas seolah-olah telah menjadi keharusan sejarah yang sulit dipungkiri menuju akulturasi budaya yang sesungguhnya (Aripuddin dan Sambas, 2007: 41).
Televisi sebagai Instrumen Dakwahtainment
Melirik televisi sebagai salah satu instrumen atau media dalam penyampaian dakwah merupakan tuntutan yang harus disadari olehh setiap insan dakwah. Hal ini menggarisbawahi bahwa pertubuhan dunia televisi dalam laju globalisasi merupakan fakta yang tidak bisa dibendung. Kehadiran televisi telah menyita ruang sosial di masyarakat sehingga keberadaannya tidak bisa dikesampingkan dari sebuah proses untuk membentuk masyarakat itu sendiri. Masyarakat dengan hadirnya televisi telah dibentuk konstruk budaya, politik, sosial, ekonomi, dan bahkan pemahaman keagamaan dan keberagamaan mereka. Untuk itulah, dalam kenyataan ini, televisi merupakan sebuah media yang atas kehadirannya pembentukan sosial kemasyarakatan itu berjalan dan berbentuk Menggaris bawahi televisi sebagai sebuah media, maka kehadirannya dalam analisis dakwah menjadi sebuah konsep yang akan menjadikan masyarakat dikenalkan dan dijelaskan tentang nilai-nilai dasar dalam dakwah. Menurut Moh. Ali Aziz (2009: 403), tidak banyak pakar Ilmu Dakwah menyebutkan media dakwah sebagai salah satu unsur dakwah. Media dakwah merupakan unsur tambahan dalam kegiatan dakwah. Maksudnya, kegiatan dakwah dapat berlangsung, meski tanpa media dakwah. Seorang ustadz yang sedang menjelaskan tata cara tayammum kepada seorang tamu di rumahnya adalah salah satu contoh dakwah tanpa media. Hal tersebut jika berpegangan bahwa media selalu merupakan alat atau sarana untuk menyampaikan pesan dakwah kepada mitra dakwah. Lebih lanjut, mengutip dari Gerlach dan Ely dalam Arsyad, Moh. Ali Aziz menyebut secara garis besar media meliputi manusia, materi dan lingkungan yang membuat orang lain memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Jika berpegangan pada pendapat terakhir, maka pendakwah, Kitab Suci al-Quran dan hadis yang sedang didiskusikan, suasana pelaksanaan dakwah merupakan media dakwah. Demikian juga berarti tidak ada dakwah tanpa media. Ketika Rasulullah saw., memberi nasehat kepada seorang sahabat yang menemuinya, maka Rasulullah saw., adalah media dakwah itu sendiri. Penjelasan yang dikemukakan oleh Moh. Ali Aziz di atas menjadi satu landasan yang cukup bermakna bahwa realitas dakwah yang ada di tengah-tengah masyarakat, pembentukannya juga dipelopori melalui informasi-informasi terluar dari keberadaan mereka. Karenanya, dalam hal ini, televisi juga hadir untuk menegaskan bahwa eksistensinya menjadi media signifikan yang bisa mengenalkan dunia dakwah kepada khalayak yang sangat luas. Luasnya jangkauan televisi di tengah-tengah kehidupan masyarakat bisa menjadi satu dasar utama bahwa keberadaannya akan semakin menjadikan dakwah itu sendiri dikenal dan dimengerti oleh masyarakat. Keberadaan televisi dalam lingkup kemandirian dakwah memperjelas bahwa pertumbuhannya di era global bisa mengantarkan seorang figur yang aktif berperan di dalamnya lebih dikenal luas di masyarakat.
Keberadaan seorang dai yang dikemas dalam dunia entertainment akan menjadi semakin kuat untuk dilihat partisipasi dirinya bagi pertumbuhan keagamaan di masyarakat. Partisipasi mereka di dunia pertelevisian akan memperjelas bahwa kehadiran mereka di wilayah virtual semakin menjadikan mereka lebih dikenal dalam lingkup khalayak luas. Terlepas dari kualifikasi pesan dakwah yang disampaikan para dai di televisi, dakwah pop telah menjadi tren pada zaman sekarang. Perkembangan teknologi ternyata telah dengan tepat direspons oleh para ahli agama untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah lebih aktual, responsif, dan menyeluruh melewati batas-batas sosio-geo-kultural masyarakat. Bahkan pada kasus-kasus tertentu, dakwah pop lewat media elektronik mampu menjadi magnet tersendiri dan memosisikan Islam sebagai rahmatan lil alamin (Acep Aripuddin, 2013: 130).
Kehadiran dakwah dalam dunia pertelevisian memberikan magnet tersendiri bagi keberlangsungan dakwah yang lebih luas dan berpredikat positif di masyarakat. Meskipun dalam perkembangannya, dakwah yang ada lebih dikenal dengan dakwah pop, namun diakui atau tidak, kehadirannya telah memberikan makna tersendiri bagi perkembangan dunia dakwahtainment. Kehadiran para dai dalam wilayah virtual dengan menggunakan media televisi sebagai instrumen siaran telah memberikan makna tersendiri bagi kenyataan dakwah Islam di tengah-tengah masyarakat. Volume dakwah yang ada ini 9 tampak terlihat kebermaknaannya ketika Bulan Suci Ramadlanmengisi ruang siar masyarakat. Sebagaimana dicatat oleh Acep Aripuddin (2013: 133)
Intensifikasi program dakwah di televisi pada setiap bulan Ramadlan memang merupakan momen paling strategis dalam mengupas pesan-pesan religi Islam. Sebagai umat mayoritas dalam jumlah, umat Islam Indonesia mendapat suguhan lebih di Bulan Ramadan dibanding bulan-bulan lainnya dalam masalah dakwah. Pada saat yang sama, ormas-ormas Islam, lembaga-lembaga Islam, pendidikan dan tokoh-tokoh Islam diulas dan dipublikasikan menyertai program dakwah yang ditawarkan kepada masyarakat. Dakwah pada akhirnya, dalam konteks Ramadan bukan saja menyampaikan pesan-pesan etis agama, tetapi juga memublikasikan berbagai peran pranata dan lembaga sosial Islam dalam pembangunan Indonesia. Kehadiran dakwah dalam dunia pertelevisian merupakan tuntutan dari kondisi kekinian.
Globalisasi yang mengisi ruang-ruang komunikasi masyarakat telah menggiring mereka menjadikan televisi sebagai salah satu instrumen informasi selain juga sebagai media hiburan keluarga. Dalam cakupan dakwah yang lebih luas, televisi sebagai sebuah organisasi perusahaan yang bergerak dalam industri pertelevisian telah mampu menjadikan fenomena para dai sebagai bagian komoditi program industrinya. Para dai tidak lagi dikonotasikan sebagai makhluk imun terhadap media audio visual seperti televisi. Keadaan demikian sejalan dengan prinsip dalam teori dakwah antarbudaya, yaitu menyampaikan pesan-pesan Islam di mana dai, media, dan madunya berbeda latar belakang budaya, tidak terkecuali materi yang disampaikannya (Acep Aripuddin, 2013: 131).
 BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Pertumbuhan dan pengembangan sosial di tengah-tengah kehidupan umat adalah keniscayaan yang akan senantiasa eksis dan berlanjut. Hal ini bertumpu kepada sebuah fakta bahwa perubahan itu merupakan hakikat dari pertumbuhan dan pengembangan sosial kemasyarakatan itu sendiri. Setiap masyarakat harus secara seksama menyadari bahwa pengembangan masyarakat kontemporer yang terdapat di tengah-tengah mereka harus menyadari secara seksama pentingnya menghidupkan kesadaran akan munculnya globalisasi di antara kehidupan sosial yang ada.
Dialektika budaya dan kehidupan sosial yang terdapat di tengah￾tengah kehidupan masyarakat perlu menginspirasi kepada fakta organis keduanya. Budaya dan kehidupan sosial merupakan sebuah situasi yang keberadaannya akan senantiasa berdialektika bersama untuk menghasilkan hakikat perubahan yang lebih nyata. Karena itulah, dalam kenyataannya, konflik yang terjadi sebagai sebab dari munculnya conflik of interest atau konflik kepentingan di tengah-tengah masyarakat mutlak dihindari guna menyadarkan setiap pribadi bahwa perubahan itu adalah lokus utama dari pertumbuhan dan pengembangan masyarakat secara umum dan
masyarakat Islam secara khusus.Pertumbuhan dan pengembangan masyarakat Islam dalam kerangka masyarakat kontemporer dibangun berlandaskan kepada dialektika yang tejadi pada dinamika kehidupan mereka. Dinamika yang muncul di tengah-tengah mereka senantiasa akan berdialektika dengan kecenderungan-kecenderungan pribadi atau kecenderungan sosial yang mungkin keberadaan ini bisa menimbulkan konflik-konflik kepentingan tertentu. Untuk alasan inilah, maka setiap pribadi perlu menyadari secara seksama bahwa keberadaan mereka di tengah-tengah perkembangan sosial mustahil terhindar dari friksi-friksi. Adapun friksi-friksi yang ada ini perlu disadari sebagai salah satu modal untuk menyadarkan mereka bahwa hal ini adalah kensekuensi bagi keberlangsungan sosial tersebut.
Kemunculan televisi di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah memberikan bentukan-bentukan yang berarti bagi pertumbuhan masyarakat itu sendiri. Masyarakat dalam kenyataannya akan disuguhi dengan aneka warna kehidupan yang menggiring mereka ke arah pemilahan aspek bernilai bagi dirinya atau keluarganya. Untuk alasan inilah, kerangka visual dakwah yang ada dan disajikan oleh dunia pertelevisian, hal itu akan memberikan dampak berarti atas mutualisme keberagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.
Intensitas siaran yang disajikan oleh televisi bagi ruang hiburan dan informasi masyarakat merupakan sebuah kenyataan yang bisa dilihat dan disaksikan bersama. Masyarakat dalam keberadaannya akan mengambil porsi yang cukup berarti bagi pendalaman informasi dan relaksasi individu di setiap waktunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berita online